Friday, 6 December 2013

Rupiah Semakin Turun Saja

Nilai tukar rupiah tercatat di pasar kontrak terus melemah dalam enam minggu terakhir. Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut terjadi dalam kurun waktu terpanjang sejak Mei 2012 akibat munculnya spekulasi sejumlah perusahaan yang memborong dolar untuk memenuhi pembayaran akhir tahun.
Kurs rupiah pekan ini di pasar Non Delivered Forward (NDF) untuk satu bulan ke depan, merosot 1,1% menjadi 12.043 per dolar AS pada perdagangan pukul 10:15 waktu Jakarta. Angka tersebut 0,5% lebih rendah di bandingkan nilai rupiah di pasar spot. Di pasar bank domestik, nilai tukar rupiah melemah 0,1% pekan ini menjadi 11.980 per dolar AS.
Rupiah dipengaruhi sentimen dan fundamental permintaan dolar musiman. Terlalu dini untuk menilai apakah surplus perdagangan akan terjadi secara berkelanjutan. Jumlah cadangan devisa pada November telah sedikit berubah dari US$ 97 miliar pada November.
Sementara itu investor asing memborong surat utang berdenominasi lokal sebesar Rp 1 triliun pada 2 Desember dan menjual saham lokal sebesar US$ 36 juta pekan ini hingga perdagangan kemarin.
Rupiah telah keluar dari level amannya dan BI akan menahan volatilitas mata uang tersebut. Kisaran nilai tukar rupiah antara 11.000 dan 11.500 merupakan level yang paling sesuai untuk menekan impor. Selain itu volatilitas rupiah satu bulan ke depan, tercatat naik 259 basis point atau 2,59% ke level 17,11% pekan ini. Itu merupakan lonjakan tertinggi sejak 23 Agustus.

No comments:

Post a Comment