Fundamental mata uang rupiah
masih lemah antara lain karena masih tingginya permintaan valuta asing
untuk pembayaran utang luar negeri walaupun indikator utang masih aman. Kondisi ini membuat pergerakan rupiah akan sangat tergantung pada
pengelolaan cadangan devisa.Per September 2013, posisi utang luar negeri tercatat
259,9 miliar dolar AS atau naik dari posisi kuartal sebelumnya 257,3
miliar dolar AS. Jumlah itu terdiri dari utang luar negeri pemerintah
113,8 miliar dolar AS AS atau 43,7 persen dari total utang luar negeri.Sementara utang luar negeri swasta sebesar 136,7 miliar dolar AS
atau 52,6 persen dari total utang luar negeri dan utang luar negeri
perbankan 22,4 miliar dolar AS.Permintaan terhadap valuta asing masih akan cukup
tinggi untuk pembayaran utang tersebut. Pembayaran utang pemerintah dan
swasta dari Januari hingga September 2014 tercatat 25,7 miliar dolar AS
atau 2,9 miliar dolar AS per bulan.Selain itu terdapat pembayaran aset yang mencapai 21 miliar dolar AS per tahun serta ada kemungkinan outflow karena rencana tapering the Fed. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah berasal dari
dalam negeri dan eksternal. Dari dalam negeri antara lain permintaan
dolar AS dalam jumlah besar, sentimen negatif karena Indonesia
menghadapi defisit kembar, dan pasar valuta asing yang dangkal. Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sejak akhir
2011 yang ketika itu berada di posisi sekitar Rp9.000 per dolar AS
menjadi saat ini sekitar Rp12.000 per dolar AS. Langkah Bank Indonesia (BI) untuk menciptakan stabilitas nilai tukar
rupiah adalah membuat bank sentral memiliki reputasi baik dan kebijakan
secara konsisten.
No comments:
Post a Comment