Tuesday, 12 November 2013

BI Rate Naik Lagi

Banyak yang mengatakan kenaikan BI Rate 25 basis poin kali ini di luar perkiraan para pelaku pasar mengingat kondisi ekonomi dan inflasi yang belakangan sudah menunjukkan tanda-tanda positif.
Kenaikan BI rate kali ini akan menjadi kenaikan yang terakhir sebelum nantinya akan diturunkan kembali. Seiring dengan perbaikan ekonomi dan tingkat konsumsi masyarakat indonesia yang akan meningkat pada tahun 2014, diperkirakan BI baru akan menurunkan kembali tingkat suku bunga acuannya di akhir tahun depan. Namun penurunan yang diprediksikannya tidak dilakukan secara besar-besaran melainkan dilakukan secara bertahap mengingat hal itu juga harus disesuaikan oleh beberapa industri keuangan termasuk perbankan. Kuartal IV 2014, ada kemungkinan (turun) tapi tidak banyak, paling hanya 25-50 basis poin .

Seperti diketahui, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan kemarin Bank Indonesia menetapkan kenaikan suku bunga acuan/BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,5%. Kenaikan BI Rate itu juga diikuti dengan landing facility dari 7,25% menjadi 7,5%. Sementara itu, fasilitas simpanan BI/Fasbi naik dari 5,5% menjadi 5,75%.

Kenaikan suku bunga acuan/BI Rate menjadi 7,5% dinilai berdampak positif untuk surat utang negara (SUN)/ obligasi negara. Harga obligasi negara mengalami koreksi di pasar sekunder, karena investor melakukan penyesuaian terhadap BI Rate.
Untuk obligasi negara hampir keseluruhan tenor obligasi mengalami penurunan harga berkisar antara 70-120 basis poin.

Koreksi harga obligasi negara membuat obligasi ini masih menarik karena dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk masuk ke obligasi negara. Hal itu dikarenakan imbal hasil obligasi menjadi meningkat. Kesempatan bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang seperti dana pensiun dan asuransi jiwa untuk masuk.

Meski demikian jika dilihat harga obligasi negara akan cenderung naik walapun terbatas. Isu pengurangan stimulus oleh bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) mempengaruhi harga obligasi negara. Jadi BI saat ini menaikkan suku bunga acuan guna mengantisipasi jika The Fed benar-benar akan melakukan tapering. Isu tapering yang kembali mengemuka saat ini membuat harga obligasi negara akan kembali naik. Kenaikan suku bunga acuan belum akan berdampak bagi obligasi korporasi/swasta. Hal itu karena pergerakan harganya tidak berfluktuasi seperti obligasi negara.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang awalnya melemah tipis dan mencoba rebound, justru ambruk jelang penutupan perdagangan setelah dipersuram oleh Keputusan Dewan Gubernut Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI rate dari level 7,25% menjadi 7,5%.

Kenaikan BI rate ini memicu persepsi kondisi makroekonomi Indonesia yang belum akan membaik disertai timbulnya penilaian masih akan tingginya inflasi hingga akhir tahun.
Pelaku pasar yang di awal perdagangan memilih aksi wait & see dan berspekulasi masuk pasar seiring positifnya laju bursa saham Asia, justru beramai-ramai melakukan aksi jual di sesi sore.

Positifnya laju bursa saham Asia dan pembukaan pasar Eropa menjadi tidak terlalu diperhatikan.
Pada perdagangan kemarin, bursa saham Eropa yang di awal sesi bergerak menguat, sempat berbalik melemah seiring respon negatif pelaku pasar terhadap rilis beberapa kinerja emiten yang mengalami pelemahan. Munculnya rilis inflasi Jerman yang stabil seolah tidak banyak direspon positif pelaku pasar.



No comments:

Post a Comment