Banyak yang mengatakan kenaikan BI Rate 25 basis
poin kali ini di luar perkiraan para pelaku pasar mengingat kondisi
ekonomi dan inflasi yang belakangan sudah menunjukkan tanda-tanda
positif.
Kenaikan BI rate kali ini akan menjadi kenaikan yang terakhir
sebelum nantinya akan diturunkan kembali. Seiring
dengan perbaikan ekonomi dan tingkat konsumsi masyarakat indonesia yang
akan meningkat pada tahun 2014, diperkirakan BI baru akan
menurunkan kembali tingkat suku bunga acuannya di akhir tahun depan. Namun
penurunan yang diprediksikannya tidak dilakukan secara besar-besaran
melainkan dilakukan secara bertahap mengingat hal itu juga harus
disesuaikan oleh beberapa industri keuangan termasuk perbankan. Kuartal IV 2014, ada kemungkinan (turun) tapi tidak banyak, paling hanya 25-50 basis poin .
Seperti
diketahui, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan kemarin Bank
Indonesia menetapkan kenaikan suku bunga acuan/BI Rate sebesar 25 basis
poin menjadi 7,5%. Kenaikan BI Rate itu juga diikuti dengan
landing facility dari 7,25% menjadi 7,5%. Sementara itu, fasilitas
simpanan BI/Fasbi naik dari 5,5% menjadi 5,75%.
Kenaikan suku bunga acuan/BI Rate menjadi 7,5% dinilai berdampak positif
untuk surat utang negara (SUN)/ obligasi negara. Harga obligasi negara
mengalami koreksi di pasar sekunder, karena investor melakukan
penyesuaian terhadap BI Rate.
Untuk obligasi negara hampir keseluruhan tenor obligasi mengalami
penurunan harga berkisar antara 70-120 basis poin.
Koreksi harga obligasi negara membuat obligasi ini masih
menarik karena dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk masuk ke
obligasi negara. Hal itu dikarenakan imbal hasil obligasi menjadi
meningkat. Kesempatan bagi
investor dengan horizon investasi jangka panjang seperti dana pensiun
dan asuransi jiwa untuk masuk.
Meski demikian jika dilihat harga obligasi negara akan cenderung naik walapun terbatas.
Isu pengurangan stimulus oleh bank sentral Amerika Serikat (The Federal
Reserve) mempengaruhi harga obligasi negara. Jadi BI saat ini
menaikkan suku bunga acuan guna mengantisipasi jika The Fed benar-benar
akan melakukan tapering. Isu tapering yang kembali mengemuka saat ini
membuat harga obligasi negara akan kembali naik. Kenaikan suku bunga acuan belum akan berdampak bagi
obligasi korporasi/swasta. Hal itu karena pergerakan harganya tidak
berfluktuasi seperti obligasi negara.
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang awalnya melemah tipis dan mencoba rebound,
justru ambruk jelang penutupan perdagangan setelah dipersuram oleh
Keputusan Dewan Gubernut Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI rate dari
level 7,25% menjadi 7,5%.
Kenaikan BI rate ini memicu persepsi kondisi makroekonomi Indonesia
yang belum akan membaik disertai timbulnya penilaian masih akan
tingginya inflasi hingga akhir tahun.
Pelaku pasar yang di awal perdagangan memilih aksi wait & see dan berspekulasi masuk pasar seiring positifnya laju bursa saham Asia, justru beramai-ramai melakukan aksi jual di sesi sore.
Positifnya laju bursa saham Asia dan pembukaan pasar Eropa menjadi
tidak terlalu diperhatikan.
Pada perdagangan
kemarin, bursa saham Eropa yang di awal sesi bergerak menguat, sempat
berbalik melemah seiring respon negatif pelaku pasar terhadap rilis
beberapa kinerja emiten yang mengalami pelemahan. Munculnya rilis
inflasi Jerman yang stabil seolah tidak banyak direspon positif pelaku
pasar.
No comments:
Post a Comment